Hukum

Dibalik Ancaman Petugas Dishub: Analisis Konflik di Jalan Raya dan Budaya Kekuasaan

Viralnya ancaman petugas Dishub Lampura pada sopir truk bukan sekadar insiden. Ini cermin masalah sistemik di sektor transportasi yang butuh evaluasi mendalam.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
16 Maret 2026
Dibalik Ancaman Petugas Dishub: Analisis Konflik di Jalan Raya dan Budaya Kekuasaan

Bayangkan Anda sedang menyetir, menjalankan tugas harian, tiba-tiba seseorang berseragam mendekat dengan ancaman fisik. Itulah yang dialami seorang sopir truk di Lampung Utara, dan rekamannya menyulut perdebatan nasional. Namun, apa yang kita saksikan di video viral itu hanyalah puncak gunung es. Sebagai penulis yang mengamati dinamika sosial, saya melihat peristiwa ini bukan sekadar adu mulut atau ancaman biasa. Ini adalah manifestasi dari ketegangan struktural yang sudah lama mengendap di sektor transportasi darat kita—sebuah benturan antara otoritas, tekanan ekonomi, dan budaya kerja di lapangan yang sering kali abu-abu.

Insiden di Jalan Lintas Tengah Sumatera, Kotabumi, itu seolah menjadi jendela yang tiba-tiba terbuka. Kita melihat seorang oknum petugas Dinas Perhubungan tidak hanya kehilangan kesabaran, tetapi secara terang-terangan mengancam akan menusuk sopir dan kernet truk, sambil meminta rekaman dihapus. Tindakan itu sendiri sudah melampaui batas profesionalitas, namun yang lebih menarik untuk dikulik adalah ‘mengapa’ di balik ledakan emosi tersebut. Pemicu yang disebut-sebut terkait ‘setoran uang yang tidak sesuai’ mengarah pada sebuah praktik yang mungkin sudah dianggap biasa di beberapa titik, namun sebenarnya adalah akar masalah yang merusak tatanan.

Mengurai Benang Kusut: Dari Insiden Personal ke Masalah Sistemik

Menganalisis kasus ini hanya dari sisi pelanggaran etik individu petugas adalah penyederhanaan yang berbahaya. Konflik di jalan raya, terutama antara petugas pengawas dan pengemudi angkutan barang, sering kali berakar pada sistem yang menciptakan friksi. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam beberapa laporan tematik menyebutkan bahwa konflik di jalan sering dipicu oleh persepsi ketidakadilan dalam penegakan aturan, beban operasional yang tinggi, dan komunikasi yang buruk. Petugas di lapangan kerap berada dalam tekanan target tertentu, sementara pengemudi menghadapi tekanan ekonomi dan deadline pengiriman. Pertemuan kedua tekanan ini di bawah terik matahari atau di tengah kemacetan bisa menjadi bensin yang siap meledak.

Dalam video tersebut, kita melihat upaya sopir dan kernet untuk mendokumentasikan kejadian. Ini adalah fenomena menarik di era digital: warga yang merasa tidak berdaya kini memiliki ‘senjata’ berupa kamera ponsel. Dokumentasi ini menjadi alat verifikasi dan pertahanan, sekaligus pedang bermata dua yang bisa memicu emosi pihak yang direkam. Reaksi petugas yang meminta penghapusan rekaman menunjukkan kesadaran akan konsekuensi reputasi, sayangnya diwujudkan dengan ancaman, bukan dialog.

Budaya Kekuasaan dan Mentalitas ‘Seragam’ di Ruang Publik

Di sini, saya ingin menyampaikan opini yang mungkin kontroversial: insiden seperti ini juga memperlihatkan sisa-sisa mentalitas ‘kekuasaan’ yang diasosiasikan dengan seragam. Seragam dinas seharusnya adalah simbol pelayanan publik dan penegakan hukum, bukan alat untuk mengintimidasi. Namun, dalam beberapa kasus, ia justru menciptakan jarak psikologis dan perasaan superior yang bisa memicu penyalahgunaan wewenang. Ancaman ‘menusuk’ bukan hanya pelanggaran hukum pidana (pasal mengenai pengancaman), tetapi juga pengingkaran total terhadap fungsi negara sebagai pelindung.

Respons institusi, dalam hal ini Polres Lampung Utara dan Dinas Perhubungan setempat yang menyatakan akan menindaklanjuti, adalah langkah standar yang diharapkan. Namun, pertanyaannya: apakah tindakan akan berhenti pada pemeriksaan dan sanksi administratif bagi oknum tersebut? Atau akan ada evaluasi mendalam terhadap pola pengawasan, mekanisme pelaporan, dan iklim kerja di lapangan yang mungkin telah membiarkan budaya kekerasan verbal—atau bahkan fisik—tumbuh subur? Sanksi bagi individu perlu, tetapi tanpa perbaikan sistem, kita hanya menunggu ‘oknum’ berikutnya muncul di video viral berikutnya.

Mencari Solusi di Tengah Hiruk-Pikuk Jalan Raya

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari kasus memilikan ini? Pertama, transparansi dan akuntabilitas harus ditingkatkan dengan teknologi. Body camera untuk petugas lapangan, misalnya, bukan ide yang buruk. Ia melindungi petugas dari tuduhan palsu sekaligus melindungi masyarakat dari perlakuan semena-mena. Kedua, perlu ada saluran komunikasi dan pengaduan yang independen, mudah diakses oleh pengemudi, tanpa rasa takut akan pembalasan. Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah perubahan mindset melalui pelatihan berkelanjutan. Petugas di lapangan adalah ujung tombak yang berhadapan langsung dengan stres jalanan. Mereka butuh keterampilan de-eskalasi konflik, komunikasi efektif, dan manajemen emosi, bukan sekadar pengetahuan peraturan.

Di sisi lain, sebagai masyarakat, kita juga punya tanggung jawab. Viralnya video ini menunjukkan kekuatan watchdog publik. Namun, marilah kita bergerak melampaui euforia ‘menghakimi’ di media sosial. Tuntutan kita harus fokus pada perbaikan sistem, bukan sekadar pemecatan satu orang. Kita perlu bertanya pada instansi terkait: langkah konkret apa yang akan diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa? Apakah ada program penyegaran etika dan pelatihan bagi petugas? Bagaimana mekanisme pengawasan internal yang selama ini berjalan?

Pada akhirnya, jalan raya adalah ruang hidup bersama. Insiden di Lampung Utara adalah pengingat pahit bahwa ruang itu bisa berubah menjadi medan pertarungan ketika profesionalisme luntur dan tekanan menguasai akal sehat. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik untuk merefleksikan hubungan antara petugas negara dan warga yang dilayani. Bukan hubungan atasan-bawahan atau pengawas-yang-diawasi, tetapi kemitraan untuk menciptakan ketertiban dan keamanan bersama. Tindakan satu oknum telah merusak kepercayaan; butuh kerja kolektif dan komitmen institusional yang tulus untuk membangunnya kembali. Bagaimana menurut Anda, langkah pertama apa yang paling krusial untuk memperbaiki keadaan ini?

Dipublikasikan: 16 Maret 2026, 15:06
Dibalik Ancaman Petugas Dishub: Analisis Konflik di Jalan Raya dan Budaya Kekuasaan